Alam Semesta: Jawa timur
Showing posts with label Jawa timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa timur. Show all posts

Thursday, October 25, 2018

Mengenal suku Osing Banyuwangi

Suku OSING


 Sejarah berdirinya kabupaten Banyuwangi tak bisa lepas dari kerajaan Blambangan. Blambangan adalah cikal bakal dari Banyuwangi itu sendiri. Bahkan Blambangan merupakan kerajaan yang paling lama bertahan terhadap serangan kerajaan Mataram dan VOC. Bukan hanya keindahan alam yang terbentang luas di bumi Blambangan ini, kekayaan budaya juga menjadi ciri khas populer yang dikembangkan oleh maysarakatnya.
Salah satu fakta keunikan Banyuwangi adalah penduduknya yang multi culuture yang terbentuk dari tiga elemen masyarakat yaitu suku Jawa, suku Madura dan suku Osing Banyuwangi. Tapi berdasarkan sejarah suku Osing adalah suku asli Banyuwangi yang sampai sekarang masih bertahan di Banyuwangi dengan segala tradisi dan kebudayaannya yang masih terjaga.
Suku Osing merupakan penduduk asli Banyuwangi karena suku Osing adalah masyarakat yang hidup pada pemerintahan kerajaan Blambangan. Suku Osing Banyuwangi juga memiliki adat istiadaat budaya, bahasa yang berbeda dari masyarakat jawa dan Madura. Seperti apa keunikan asli banyuwangi? Berikut informasinya

Berikut Informasi Suku Osing Banyuwangi

1. Wong Osing



Suku Osing Banyuwangi menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan utara. Terutama di kecamatan Banyuwangi, kecamatan rogojampi, Sempu, Gelagah Singojuruh, Giri, Kalipuro dan Songgon. Suku Osing atau lebih dikenal dengan wong Osing memiliki bahasa sendiri yakni bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari bahasa jawa kuno tapi bukan merupakan bahasa Jawa karena dialegnya yang berbeda.
Dari system kepercayaan wong Osing dahulu adalah pemeluk agama hindu seperti Majapahit. Namun seiring berkembangnya kerajaan islam di Pantura atau Pantai Utara jawa menyebabkan agama Islam cepat menyebar di kalangan suku Osing. Dikeseharian, mata pencaharian suku Osing adalah bertani, berkebun dan sebagian kecil lainnya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.

2. Ritual Pecel Pitik



Kemiren adalah nama desa di wilayah Gelagah kabupaten Banyuwangi yang merupakan desa wisata. Di desa ini terdapat perkampungan asli warga suku Osing Banyuwangi. Di desa ini suku Osing masih mempertahankan tradisi dan nilai nilai leluhurnya. Hal ini terlihat jelas dengan rutinitas wajib yang dilakukan penduduk sekitar bila tengah menggelar sebuah pesta ucapan syukur. Mulai dari pernikahan sampai sunatan anak lelakinya.
Salah satu ritual yang dilakukan penduduk desa Kemiren pada hari kamis dan minggu adalah ritual pembersihan dari hal hal yang buruk atau biasa yang dikenal dengan pecel pitik. Ritual ini adalah ritual makan bersama di salah satu makam leluhur yang paling dihormati. Sebelum memulai ritual, pertama tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan bahan pembuatan pecel pitik terlebih dahulu. Seperti parutan kelapa yang tidak terlalu tua, ayam kampung dan bumbu bumbu seperti cabe, terasi, kemiri, bawang putih, kencur dan kacang.
Cara pembuatannya pun relative mudah, ayam kampung dibakar hingga matang diatas tumpuk kayu tradisional. Dan ada satu syarat yang tidak boleh dilanggar adalah masakan sama sekali tidak boleh dicicipi sampai ritual selesai. Setelah semuanya siap disajikan makanan disusun dalam pikulan khusus.
Sebelum mengantar ke makam buyut cilik ada salah satu syarat yang harus dipenuhi yaitu bila kita laki laki kita harus menggunakan ikat kepala atau udeng khas suku Osing. Ini merupakan simbol warga Osing menerima kita sebagai bagian dari mereka. Setelah siap semua, perjalanan pun dimulai ke makam buyut cilik.
Sesampainya di makam ritual dimulaai dengan menyisihkan sebagian makanan untuk diletakkan didalam makam. Kemudian setelah ayam dijadikan bagian bagian lebih kecil mereka mengistilahkannya di ucel ucel kemudian diaduk dengan kelapa dan bahan lainnya. Ritual pun dilanjutkan berdoa dengan memohon hajat dilancarkan.
Lalu tibalah saat menyantap makanan bersama sama. Ada kepercayaan jika semakin banyak porsi yang kita makan dan habiskan maka semakin besar pula rejeki yang akan didapatkan. Selesai bersantap ritual pun selesai. Uniknya lagi tradisi pecel pitik ini tidak setiap hari kita lakukan atau temukan. Ritual ini biasanya dilakukan suku osing di desa Kemiren pada hari kamis dan minggu pada pukul dua siang sampai 7 malam.

3. Sanggar Ganjah Arum

Mengenal Lebih Dekat Suku Osing
Bagi anda yang tidak memiliki waktu banyak untuk menjelajahi desa Kemiren, ada satu tempat yang dapat dikunjungi yang sangat mereprentasi atau gambaran desa adat suku Osing. Baik rumah atau tempat tinggalnya ataupun seni dan budayanya. Adalah sebuah tempat bernama sanggar Ganjah Arum milik salah satu pelestari budaya Osing bernama Setiawan Subekti. Sanggar yang dikemas apik dan desain tradisional ini oleh pengusaha perkebunan tersebut dijadikan bak museum suku Osing Banyuwangi sebagai suku asli Banyuwangi.
Masuk ketempat dengan luas sekitar 7000 meter persegi ini kita akan temui tatanan rumah dan benda benda kuno yang menceritakan dan menggambarkan desa kemiren pada masa 50 tahun lalu. 7 buah rumah tekel ditata tak beraturan bersama sejumlah ornament kuno seperti bebatuan fosil, mesin ketik dan telephone kuno serta berbagai macam benda benda tradisional lainnya seperti angklung paglak yakni sebuah tempat untuk memainkan alat musik angklung khas banyuwangi dengan luas 2 X 3 meter.
Bila diperhatikan bentuk rumah osing hampir sama dengan rumah khas Madura. yang membedakan hanya bentuk kayu atap kuda kudanya saja. Rumah osing atap kuda kudanya ada dua dimana bagian atas yang biasa disebut lambing lebih panjang daripada yang dibawah atau biasa yang disebut jahit pendek.
Selain rumah dan ornament ornament nya yang dilestarikan oleh pak iwan adalah salah satu tanaman khas suku Osing yakni biji kopi. Bahkan begitu cintanya dengan kopi suku osing, ditempat ini lah lahir semacam semboyan “Sekali seduh kita bersaudara”. Tak heran jika wisatawan wisatawan lokal dan mancanegara serta tokoh-tokoh penting datang mengunjungi keindahan budaya Osing atau sekedar menikmati kopi racikannya.

4. Indahnya Alunan Musik Othekan

Mengenal Lebih Dekat Suku Osing
Banyak kesenian asli Banyuwangi yang lahir dari suku Osing Banyuwangi ini. Sebut saja salah satunya tari gandrung yang begitu mempesona. Dan seorang penari sesepuh mak temu adalah salah satu saksi hidup yang sangat dihormati penari-penari gandrung di Banyuwangi.
Tak sedikit yang belajar langsung atau sekedar meminta restunya tiap kali akan melakukan pertunjukan. Setelah sekilas melihat mak temu menari dan mendedangkan lagu gandrung, kita berkesempatan melihat kesenian lainnya yang tak kalah mempesonanya. Yakni musik othekan, yang menjadikannya unik dan mengagumkan adalah selain alat musik yang digunakan yakni lesung dan alung, alat penumbuk padi yang dipadu dengan angklung dan biola.
Para pemain musiknya adalah wanita dan pria yang usianya sudah sepuh. Sebelum mulai, para nenek yang menggunakan baju tradisional berwarna hitam ini terlihat menggenggam perlengkapan sirih. Ya tradisi menyirih sepertinya menjadi bagian yang tak terlupakan oleh masyarakat suku osing bila sudah memasuki usia senja.

Tuesday, October 23, 2018

Mengenal suku Bawean di Gresik,Jawa Timur

Mengenal suku Bawean di Gresik,Jawa Timur

Mengenal Suku Bawean Dari Kabupaten Gresik Jawa Timur

 Suku Bawean merupakan etnis kelompok melayu yang mendiami pulau Bawean yang terletak di laut jawa antara pulau Kalimantan dan pulau jawa. Terletak sekitar 80 mil kearah utara Surabaya. Pulau Bawean terdiri atas dua kecamatan, yaitu kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak.


Terdapat salah satu kelurahan di bawean, yaitu Diponggo yang bahasanya berbeda jauh dari desa-desa yang lain. Mereka berbahasa semi Jawa yang merupakan warisan dari seorang ulama wanita yang pernah menetap di desa itu, yaitu waliyah Zainab, yang kabarnya masih keturunan Sunan Ampel.

Asal usul penemuan pulau Bawean

Secara etimologi, kata Bawean berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini bernama Buwun.

Keberadaan suku Bawean di Malaka

Belum diketahui pasti kapan kedatangan orang-orang Bawean ke Malaka karena tidak ada bukti dan dokumentasi sejarah dan catatan resmi mengenai kedatangan mereka di Malaka. Namun terdapat tiga pendapat yang dikemukakan, namun ketiga pendapat tersebut tidak bisa menunjukkan waktu yang tepat.

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa ada orang yang bernama Tok Ayar datang ke Malaka pada tahun 1819.

2. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa orang Bawean datang pada tahun 1824, kira-kira semasa penjajahan Inggris di Malaka, dalam catatan Pemerintah Koloni Singapore pada tahun 1849 terdapat 763 orang Bawean dan itu terus bertambah jumlahnya. Sedangkan dalam catatan Persatuan Bawean Malaysia pada tahun 1891 terdapat 3.161 orang Bawean yang tersebar di Kuala Lumpur, Johor Bharu, Melaka, Seremban dan Ipoh.

3. Pendapat yang ketiga mengatakan orang Bawean sudah ada di Malaka sebelum tahun 1900 dan pada tahun itu sudah banyak orang Bawean di Malaka

Umumnya mereka tinggal di kota atau daerah yang dekat dengan perkotaan, seperti di Kampung Mata Kuching, Klebang Besar, Limbongan, Tengkera dan kawasan sekitar Rumah Sakit Umum Malaka. Selain di Malaka, orang Bawean juga tersebar Malaysia, Singapura, Australia dan Vietnam.

Sistem kepercayaan
Agam islam merupakan agama Mayoritas masyarakat Bawean. Sedangkan agama lain merupakan masyarakat pendatang. Penyebaran Agama Islam di Bawean terjadi pada awal abad ke-16 yang dibawa oleh Maulana Umar Mas'ud. Sampai saat ini, Makam beliau merupakan tujuan peziarah lokal maupun dari luar Bawean. Makamnya terletak di wilayah Sangkapura di pantai selatan pulau tersebut. selain itu juga terdapat ulama wanita di pantai utara, tepatnya di desa Diponggo terletak di atas dataran tinggi. Ia merupakan penyebar agama islam di Diponggo, namanya Waliyah Zainab.

Bahasa

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bawean yang memiliki kemiripan dengan bahasa Madura. Meskipun bahasanya yang mirip, tapi adat dan budaya sukus Bawean sangat berbeda dengan Madura. Mereka juga tidak mau disebut sebagai orang Madura karena perbedaan kebudayaan. Bahasa Bawean ditengarai sebagai kreolisasi bahasa Madura karena kata-kata dasarnya yang berasal dari bahasa ini.

Budaya Merantau

Masyarakat Bawean juga terkenal dengan budaya merantau. Mereke merantau ke Bandar Malaka berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu karena pada abad 15 dan 16 Bandar Malaka menjadi pusat perdagangan. Mereka merantau dengan alasan ekonomi maupun tradisi hingga akhirnya terjadi migrasi ke semenanjung Malaka dan sekitarnya.

Pada tahun 1849 jumlah orang Bawean di Singapura berjumlah 763 dan jumlahnya terus bertambah pada tahun 1957 sebanyak 22.167. Para perantau Bawean pada abad 19 menggunakan kapal jurusan Bawean ke Singapura yang dimiliki oleh pengusaha keturunan Palembang yang biasa disebut Kemas.

Kesenian

Setiap suku bangsa di Indonesia, memiliki kesenian yang unik dan berbeda-beda. Sama halnya dengan suku Bawean. Di bawah ini adalah kesenian dari masyarakat Bawean.

Kercengan

Kesenian ini biasa dipertunjukkan sewaktu acara Perkawinan. Masyarakat Madura menyebut nama kercengan dengan Hadrah. Penari berbaris sebaris atau dua baris. Pemain kompang dan penyanyi duduk di barisan belakang. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain dari kesenian kercengan terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Cukur Jambul

Cukur jambul merupakan adat istiadat yang diperuntukkan pada bayi yang telah genap usianya 40 hari. Cukur jambul diiringi dengan bacaan berzanji bersama paluan kompang.

Pencak Bawean

Pencak Bawean sering ditampilkan dalam acara hari besar seperti hari kemerdekan 17 agustus maupun acara perkawinan orang bawean. Pencak Bawean mengutamakan keindahan langkah dengan memainkan pedang.

Dikker

Alunan puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW disertai dengan permainan terbang.

Mandiling

Ini merupakan kesenian sejenis tari-tarian yang disertai dengan pantun.

KEBUDAYAAN MASYARAKAT MADURA DENGAN CIRI KHAS,



      KEBUDAYAAN MASYARAKAT MADURA 


Kebudayaan adalah seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan perilaku yang oleh para anggotanya dipandang layak dan dapat diterima.
Kebudayaan terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat raya yang berada di balik perilaku manusia, dan yang tercermin dalam perilaku. Semua itu adalah milik bersama para anggota masyrakat, dan apabila orang berbuat sesuai dengan itu, maka perilaku mereka dianggap dapat diterima di dalam masyarakat.
Kebudayaan dipelajari melalui sarana bahasa, bukan diwariskan secara biologis, dan unsur-unsur kebudayaan berfungsi sebagai suatu keseluruhan yang terpadu.
Dari definisi diatas masyarakat Madura memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat-masyarakat pada umumnya (masyarakat di luar Pulau Madura), meskipun Madura masih berada di wilayah Indonesia tapi karena factor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia berbeda-beda, dari satu daerah-ke daerah lain pasti memiliki perbedaan kebudayaan.
Untuk kebudayaan masyarakat Madura sendir berbeda dengan kebudayaan masyarakat lainnya, termasuk dengan kebudayaan Jawa Timur (Surabaya, Malang dll) meskipun Madura masih satu provinsi dengan mereka. Masyarakat Madura memiliki corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat Madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain.
Kebaikan yang diperoleh oleh masyarakat atau orang Madura akan dibalas dengan serupa atau lebih baik. Namun, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutp kemungkinan mereka akan membalas dengan yang lebih kejam. Banyak orang yang berpendapat bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan agamis. Dapat dibuktikan dengan banyaknya masjid-masjid megah berdiri di Madura dan tidak hanya itu saja, kebanyakan masyarakat Madura termasuk penganut agama Islam yang tekun, ditambah lagi mereka juga berusaha menyisihkan uangnya untuk naik haji. Dari hal tersebut tidak salah kalau masyarakat Madura juda dikenal sebagai masyarakat santri yang sopan tutur katanya dan kepribadiannya.
Masyarakat Madura masih mempercayai dengankekuatan magis, dengan melakukan berbagai macam ritual dan ritual tersebut memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura. Slah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah terhadab bendah pusaka yang berupa keris atau jenis tosan aji dan ada kalanya melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse(sama dengan larung sesaji).
Untuk bahasa masyarakat Madura memiliki bahasa daerahnya sendiri yang mayoritas digunakan oleh masyarkat asli Madura. Bahasa Madura hamper mirip dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, karena bahasa Madura banyak terpengaruh oleh bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa sangat terasa dalam bentuk system hierarki berbahasa sebgai akibat pendudukan Kerajaan Mataram atas Pulau Madura pada masa lampau.
Bahasa Madura mempunyai system pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalannya. Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan, namun agak berbeda karena hanya terbagi atas tingkat yakni :
  • Ja’ – iya (sama dengan ngoko)
  • Engghi-Enthen (sama dengan Madya)
  • Engghi-Bunthen (sama dengan Krama)
Bahasa Madura juga mempunyai dialek-dialek yang tersebar di seluruh wilayah Madura. Di Pulau Madura sendiri pada galibnya terdapat beberapa dialek seperti dialek Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Kangean. Dialeg yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura.
Untuk kesenian sendiri Madura memiliki beberapa kesenian tradisional seperti karapan sapi, topeng, keris, batik, celuret, kleles dan tuk-tuk. Karapan sapi adalah perlombaan pacuan sapi yang sudah berlangsung sejak dulu. Karapan sapi juga dapat menaikkan setatus social pemilik sapi bila sapi miliknya bisa juara dalam perlombaan tersebut.
Karapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Para pemusik seronen ini bertugas sebagai alat penyemangat anggota kontingen bersrta sapi-sapinya sebelum karapan dimulai.
Topeng Madura biasanya digunakan untuk pentas kesenian topeng dalang, yaitu kesenian topeng yang dalam memerankan suatu cerita, penarinya tidak berbicara, dialog dilakukan oleh dalangnya cerita yang dibawakan adalah cerita Ramayana dan Mahabarata.
Batik Madura adalah sebuah kerajinan tangan yang berasal dari Pulau Madura, yang pusat pembuatan batik tersebut berada di daerah Bangkalan yang merupakan ujung Barat Madura, sampai di pasar Sumenep. Batik Madura seakan identik dengan satu tempat istimewa, yaitu Tanjung Bumi, yang berada di Bangkalan Utara, diluar jalur utama lintas Madura yaitu berada di sisi selatan pulau Madura.
Keris juga merupakan sebuah kerajinan tradisional dari Madura meskipun tidak begitu diketahui sejak kapan keris sudah menjadi senjata tradisional masyarakat Madura. Tempat kerajinan keris sekarang berada di Kabupaten Sumenep di desa Aeng Tongtong, kecamatan Saronggi. Keris sekarang dan keris pada masa lalu berbeda, bila keris sekarang digunakan hanya untuk meningkatkan/menaikkan pamor seseorang dan keris pada masa lalu digunakan sebagai alat berperang.
Celurit juga termasuk alat tradisional milik masyrakat Madura, terutama para rakyat kecil memperlakukan celurit sebagai senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, bila pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di pulau Madura. Celurit dibuat di desa Peterongan, kecamatan Galis, kabupaten Bangkalan. Disana sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai pandai besi pembuat arit dan celurit dan keahlian mereka adalah warisan sejak ratusan tahun lampau.
Kleles  adalah alat yang dipakai untuk pasangan sapi yang dikerap agar keduanya dapat lari seirama, sedangkan pada bagian buritan adalah tempat duduk joki, yang akan mengendalikan arah dan larinya sapi. Tuk-tuk sebagai instrument pengiring pada saat kerap sedang dibawa keliling maupun pada saat sedang berlangsung perlombaan kerapan sapi.
Cara hidup masyarakat Madura ada berbagai macam seperti ada masyarakat Madura yang merantau kedaerah-daerah lain yang bertujuan agar dapat menaikkan derajat mereka, ada pula yang masih di daerahnya untuk melakukan ternak sapi, bila yang tinggal didaerah pesisir mereka bekerja sebagai nelayan dan pembuat garam tradisional, ada pula yang membuat usaha di rumah seperti usaha batik tulis Madura, kerajinan celurit dan keris.
Pakaian adat masyarakat Madura untuk pria sangat identik dengan motif garis horizontal yang biasanya berwarna merah-putih dan memakai ikat kepala. Lebih terlihat gagah lagi bila mereka membawa senjata tradisional yang berupa clurit. Dan untuk wanita, biasanya hanya menggunakan bawahan kain batik khas Madura dan mengenakan kebaya yang lebih simple.
Untuk rumahnya sendiri, masyarakat Madura kebanyakan rumahnya hamper mirip rumah Jawa (Joglo), karena bila dilihat dari sejarahnya Jawa masih ada benang merah dengan Madura maka ada akulturasi kebudayaan, antara budaya Jawa dengan budaya Madura.
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa Madura memiliki kebudayaan yang komplek dan menakjubkan. Tinggal kita, sebagai generasi muda apakah dapat melestarikan kebudayaan-kebudayaan peninggalan nenek moyang kita atau kebudayaan itu akan hilang dengan sendirinya dan anak cucu kita nantinya tidak akan dapat mengetahui dan menikmati kebudayaan peninggalan nenek moyang mereka.

Monday, October 8, 2018

Mengintip keunikan suku Tengger



Mengintip Keunikan Suku Tengger

Keunikan suku Tengger
                                                                                                                  
                                                                                                                   8 Oktober 2018



Apa anda sudah pernah mengunjungi Gunung Bromo? Gunung yang berada di Pasuruan, Jawa Timur yang terkenal dengan view sunrise nya. Hingga kini, gunung tersebut masih dijaga kesakralannya oleh suku Tengger.


 Jika ditelisik lebih dalam, suku Tengger tidak hanya menjaga gunung Bromo. Dibalik itu, mereka punya keunikan dalam adat dan budaya. Suku Tengger adalah suku yang bertempat tinggal di wilayah puncak Bromo. Mereka tersebar di daerah Tosari-Kabupaten Pasuruan, Sukapura-Kabupaten Probolinggo, Lumajang dan Kabupaten Malang.
Suku ini merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit. Pada umumnya, masyarakatnya beragama Hindu. Mereka sampai saat ini hidup dengan adat dan tradisinya sendiri. Tidak terpengaruh modernisasi zaman. Padahal tempat tinggal mereka sangat mudah dijangkau para wisatawan, baik dari dalam dan luar negeri.
Akulturasi (pergerakan) budaya sangat rentan terjadi. Namun, selama berabad-abad, suku Tengger tetap mampu mempertahankan karakteristiknya. Sehingga adat dan budaya sampai saat inipun masih tetap lestari.

Karo, hari raya yang dinanti




Gambar terkait

  Bagi suku Tengger, Karo adalah hari raya yang paling dinanti. Ini adalah hari raya terbesar bagi mereka. Karo diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi.
Disana digelar ritual adat. Nah, uniknya, ritual ini dipimpin oleh seorang “Ratu”. Ratu yang dimaksud oleh masyarakat Tengger ini bukan seorang perempuan. Tetapi mempunyai arti seorang pemimpin yang memimpin doa. Ada juga yang menyebutnya Dukun. Ratu disini berjenis kelamin laki-laki.
Prosesi dalam acara Karo meliputi; pawai hasil bumi, kesenian adat seperti tarian Karo yang benama tari Sodoran. Kemudian diikuti dengan silaturahmi ke rumah tetangga dan saudara. Kegiatan adat ini bertujuan sekaligus sebagai pemersatu suku Tengger.
Ojung, ritual meminta hujan



Hasil gambar untuk Ojung suku tengger

  Ya, itu adalah kesenian adat khas Tengger. Kalau Takaiters melihat langsung dari dekat, Ojung lebih mirip dengan duel satu lawan satu. Masing-masing peserta membawa rotan untuk dicambukkan pada lawannya. Siapa tercepat dan mengenai sasaran beberapa kali, itulah pemenangnya.
Tapi, Takaiters, Ojung sebenarnya bukan hanya kesenian semata. Itu adalah ritual suku Tengger untuk meminta hujan kepada Sang Maha Kuasa. Biasanya dilakukan saat musim kemarau panjang.
Tradisi Ojung dibuka dengan pagelaran dua tarian. Yaitu tari Topeng Kuna dan tarian Rontek Singo Wulung. Tarian itu mengisahkan seorang tokoh desa yang dianggap pahlawan pada masa lalu, yakni Ju Seng, karena kegigihannya dalam mengusir penjajah. Ju Seng pada masa itu adalah seorang demang yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh pengikut setianya bernama Jasiman dan murid-muridnya.
Konon pada masa itu, untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah, Juk Seng kerap mengamen dengan menggelar pertunjukan dua tarian tersebut. Setelah pagelaran tarian selesai dilanjutkan dengan  pertandingan dua lelaki yang berusia rata-rata antara 17 hingga 50 tahun. Mereka saling memukul dengan menggunakan rotan. Budaya ritual Ojung ini menggambarkan kekuatan dan kekebalan fisik pesertanya.
Yadnya Kasada, upacara yang ditunggu-tunggu para wisatawan dunia




Gambar terkait

  Yadnya Kasada atau lebih terkenal dengan nama Kasodo. Upacara ini menjadi tontonan unik yang selalu dinanti para wisatawan dunia. Karena Kasodo hanya dilakukan oleh masyarakat beragama hindu yang ada di daerah Tengger.
Kasada merupakan salah satu ritual meminta pengampunan dari Brahma. Dalam upacara ini, suku Tengger sangat kompak. Mulai anak-anak hingga orang dewasa melakukan pengorbanan yang dimasukkan ke kawah Gunung Bromo. Pengorbanan tersebut bisa berupa sesaji makanan, hewan piaraan, uang, dan pakaian.
Dalam Upacara Kasada, perlengkapan sesaji yang digunakan memiliki dua unsur penting yaitu kepala bungkah dan kepala gantung. Sedangkan bagi beberapa orang yang memiliki permohonan khusus, disyaratkan untuk membawa ayam atau kambing sebagai persembahan.
Asal mula terjadinya upacara Kasodo ini berhubungan dengan nama suku Tengger itu sendiri. Tengger berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger. Teng diambil dari “anteng” dan ger dari “Seger”. Upacara Kasada erat dengan cerita Roro Anteng dan Joko Seger yang sangat ingin memiliki keturunan. Merekapun akhirnya memohon kepada Dewata agar bisa memiliki 25 orang anak. Permohonan mereka dikabulkan, tetapi dengan syarat anak yang ke-25 yang bernama Kusuma harus dipersembahkan untuk Dewa Brahma (Bromo).
Ketika dewasa, Kusuma, anak dari Roro Anteng dan Joko Seger menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo dan meminta saudara-saudaranya agar pada bulan ke-10 (tahun Saka), tepat pada bulan purnama memberikan kurban ke kawah Gunung Bromo. Upacara  ini kemudian menjadi awal mula dilaksanakannya upacara Kasada.

                                 Rumah adat